Featured Post

Ayo Liburan bersama PegiPegi!

Berhubung kemarin tanggal 26 Oktober saya dan suami merayakan anniversary yang kelima, beberapa kali kami sempat mendiskusikan tentang renc...

Thursday, October 13, 2016

#TTCJourney : Mencoba Akupuntur

Sebenernya ragu-ragu mau posting tentang #TTCJourney, karena kadang-kadang kepikiran:
Kalau udah posting dan belom hamil-hamil, gimana dong?

Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin banyak orang yang mengalami masalah sama kaya saya dan suami, jadi nggak ada salahnya kan saya posting pengalaman saya disini hehehe. 


Anyway, akhir-akhir ini sering banget mendengar 'kisah sukses' temen-temen (yang juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk memiliki keturunan) yang berhasil hamil pasca mencoba akupuntur. Saya mulai browsing tentang akupuntur fertilitas dan klinik akupuntur yang bisa menangangi fertilitas di Jakarta dan sekitarnya (baca: Depok). Hasilnya bermacam-macam, mulai dari akupuntur langsing (ini favorit banget),akupuntur terkait kesehatan sampai akupuntur kecantikan (biasanya terkait kesehatan kulit dan wajah).  

Dari hasil browsing dan googling, akhirnya saya menemukan beberapa tempat yang menangani akupuntur bagi fertilitas, yakni di 2 rumah sakit (RS) besar di Cinere dan Depok. Saya mulai mencoba survey via telepon, mulai dari harga hingga dokternya. Yes, hasil ngobrol dengan teman saya, beberapa teman mengusulkan untuk mencari dokter akupuntur wanita. Alasannya : simply karena risih aja, sih...

Sayangnya survey membuat saya terpaksa menunda dulu rencana akupuntur, karena apabila akupuntur dilakukan di RS, banyak sekali biaya yang dibebankan, mulai dari biaya administrasi hingga biaya jarum. Pencarian pun dilanjutkan, sampai akhirnya saya bertemu dengan Klinik Zahira di daerah Bona Indah, Cinere. 

Awalnya saya ragu-ragu, karena dokter akupuntur yang praktek di klinik tersebut hanya 1 dan jenis kelaminnya laki-laki. Tetapi apabila dilihat dari segi biaya, akupuntur di klinik tersebut sangat amat masuk di budget yang saya miliki untuk akupuntur. Satu kali akupuntur di RS bahkan bisa mengcover 1 kali akupuntur di klinik Zahira untuk saya dan suami, bahkan sisa! Lumayan banget buat beli Chatime di sebelah Klinik! *eh*

Pengalaman pertama akupuntur
Awalnya karena saya nggak ada bayangan sama sekali gimana sih proses akupuntur itu (apakah harus buka semua baju atau menggunakan pakaian dari klinik atau gimana, dan berhubung dokternya laki-laki, jd agak-agak risih juga kalo sendirian), saya geret suami saya untuk ikut ke klinik dan di akupuntur! Setelah bercerita secara singkat tentang kondisi kami berdua (yang sama-sama overweight), akhirnya dokternya mempersilahkan suami saya untuk tiduran di kasur klinik. The Battle Is On!

Ternyata nggak perlu membuka seluruh pakaian ketika proses akupuntur dilakukan. Yang diakupuntur sebagian besar adalah bagian perut, tangan, kaki serta beberapa bagian di wajah (yes, wajah! Terutama di dahi, sih!). Kalau kalian risih dan nggak terbiasa dengan dokter laki-laki, lebih baik sih mencari klinik yang memiliki dokter akupuntur perempuan, karena walaupun nggak banyak, tetapi bagian perut pasti akan terbuka, kan, untuk ditusuk-tusuk jarum. 

Hingga saat ini saya sudah 2x akupuntur di Klinik Zahira, dengan Dokter Bambang. Saya belum hamil, sih, LOL. Tapi percaya nggak percaya, menstruasi saya yang biasanya nggak teratur (2-3 bulan satu siklus), setelah 2x akupuntur Alhamdulillah 'hanya' terlambat 1 Minggu, lho! Dokter Bambang sendiri bilang, sih, bahwa akupuntur ini nggak akan menjamin hamil atau nggak, tetapi yang pasti akupuntur membantu menyehatkan tubuh dan melancarkan proses pencernaan, peredaran darah, dan sebagainya. 

Nggak ada salahnya juga kan, ya, mencoba *Caiyo!*

Buat yang penasaran dan pingin mencoba klinik tempat aku Akupuntur, 
ini ternyata ada twitternya:

*PS :
Ini bukan postingan berbayar ya... 
Postingan ini ditulis pure karena pengalaman Akupuntur di Klinik Zahira Healthcare :)


Monday, October 10, 2016

Career Talk with Presiden Direktur BCA

Hari Sabtu, 1 Oktober 2016 yang lalu saya diberi kesempatan oleh BCA dan Blogger Perempuan untuk hadir dalam suatu event yang sangat amat bagus dan inspiring. Bank Central Asia bekerja sama dengan Universitas Indonesia memberikan seminar kepada mahasiswa-mahasiswa UI, dengan tujuan untuk mempersiapkan mahasiswa tersebut dalam menghadapi dunia kerja nantinya.


     Sambutan dari Bapak Muhammad Anis, Rektor Universitas Indonesia 

Kok, acara seminar saja bisa inspiring, sih?

Konsep acara ini mungkin hampir sama dengan seminar karir yang lain, tetapi isi dari acara ini berbeda hampir 360 derajat! Tidak hanya mengundang speakers yang juga seorang praktisi komunikasi, acara ini juga mengundang langsung Presiden Direktur BCA, yakni Bapak Jahja Setiaadmadja untuk tidak hanya membuka acara melainkan berbicara dan sharing langsung dengan mahasiswa mengenai pengalaman beliau selama di dunia bisnis.


     Bp. Jahja Setiaatmadja - Presiden Direktur BCA 

Acara ini dibuka dengan sambutan dari Bapak Muhammad Anis selaku Rektor Universitas Indonesia, yang dilanjutkan dengan sambutan singkat dari Bapak Jahja Setiaatmadja. Dalam acara ini juga diberikan donasi dana abadi UI secara simbolis, dari Bank BCA kepada UI senilai Rp 100 Juta. Pada kesempatan ini pula, Bank BCA memberikan Beasiswa Bakti BCA tahun ajaran 2016-2017 kepada 29 orang mahasiswa UI senilai Rp 400 Juta.


Bank BCA sendiri bukan kali pertama bekerjasama dengan UI. Selain secara berkelanjutan mendukung pengumpulan dana abadi UI, BCA juga telah memberikan beasiswa kepada mahasiswa UI semenjak tahun 2009. Selain itu, BCA beberapa kali mendukung kegiatan mahasiswa tidak hanya dalam bidang pendidikan, tetapi juga bidang seni budaya, yakni dengan memberikan sumbangan peralatan gamelan.



Acara dilanjutkan dengan sesi career talk bersama the one and only Presiden Direktur BCA Bapak Jahja. Alih-alih memberikan tips and trick mengenai bagaimana bisa memperoleh posisi presiden direktur di usia relatif muda (beliau mulai menjabat sebagai Direktur BCA di tahun 1999, dan di tahun 2011 beliau diangkat menjadi Presiden Direktur BCA), beliau membuka sharing session dengan menceritakan kisah beliau dari kecil.

Ada beberapa hal yang masih saya ingat betul dari beliau :
  1. Bapak Jahja tumbuh dalam keluarga yang kurang mampu. Orangtuanya bahkan baru mampu membeli rumah ketika sudah pensiun. Namun hal ini tidak pernah membuat beliau putus asa dan kecil hati.
  2. Bapak Jahja yakin, bahwa dari sesuatu hal yang buruk sekalipun ada hal indah yang bisa dipetik. Awalnya Bapak Jahja ingin menjadi Dokter Gigi, tetapi karena keterbatasan ekonomi keluarganya, beliau ‘terpaksa’ berkuliah di Fakultas Ekonomi UI jurusan Akuntansi (padahal pelajaran tatabuku adalah salah satu momok yang beliau takuti).
  3. Segala sesuatu tidak ada yang instan. Bapak Jahja tetap tekun bekerja, walaupun apa yang sudah dijanjikan tidak kunjung dipenuhi perusahaan hingga beberapa tahun.
  4. Dalam bekerja, biasakan ‘Give and Take’ - bukannya ‘Take and Give’. Let your boss know what you’re capable of, dan satu lagi : jangan pernah menolak pekerjaan.
  5. Maksimalkan teknologi dalam membantu memaksimalkan kapasitas diri.
Satu hal lagi yang saya pelajari dari beliau, adalah ketekunan. Apabila dilihat di jaman sekarang ini, rata-rata pekerja lebih menyukai pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Hal ini memang sangat bagus apabila yang dicari adalah ‘gaji’, tetapi apabila yang dicari adalah karir, dibutuhkan ketekunan dan loyalitas.


Sesi ditutup dengan tanya-jawab, dimana dibagikan merchandise berupa buku beliau dalam seri hard cover beserta Kartu Flazz yang berisi saldo senilai Rp 200 Ribu. Sayang sekali saya belum beruntung, walaupun sudah duduk paling depan. LOL.

Terima Kasih BCA!
Terima Kasih Blogger Perempuan!
Terima Kasih Bapak Jahja!
 
Related Posts with Thumbnails