Wednesday, July 1, 2015

Cara Nabung ala (Mantan) Karyawan Boros

Sebagai (mantan) karyawan dengan gaji biasa-biasa aja tapi keinginan luar biasa, permasalahan saya sehari-hari Cuma 1 : TABUNGAN! Setiap gajian, bahagia Cuma bisa nemplok 2-3 hari, habis itu seminggu kemudian keadaan sama seperti sebelum gajian – mepet, makan ala kadarnya walaupun kadang-kadang kalau masih ada uang sisa makan siang diluar sama temen kantor. Kalau akhir bulan? Jangan ditanya, deh. Alhamdulillah mantan kantor saya dulu (sebenarnya) menyediakan makan siang gratis di kantor, yang kalau nggak diambil bisa ditukar paket nasi-ayam atau roti, jadi paling nggak dalam sehari makan siang atau makan malam masih bisa diatur, deh.

Masalah mulai datang waktu saya mau nikah. Kok tabungan nggak ada? Duit kemana aja, nih? Yang ternyata waktu saya lihat ke lemari pakaian dan sepatu saya tahu juga kemana saya nabung : online seller dan toko-toko di mall dan pusat perbelanjaan. Yap, saya hobi banget belanja walaupun Cuma seuprit. Walaupun Cuma baju seharga Rp 49,000,- tetapi dengan ongkir Rp 8,000,- karena sesama Jabodetabek.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Share Tips Menabungmu bersama Blog Emak Gaoel dan Cermati, jadi sekalian share tips menabung dari saya si mantan karyawan boros ini yaa..


Akhirnya semenjak 3 tahunan yang lalu saya memutuskan untuk menggunakan reksadana sebagai alat menabung saya ‘minimal’. Kenapa kok minimal? Karena apabila saya bulan tersebut ‘lupa’ menyisakan uang lebih untuk ditabung, paling tidak saya sudah punya tabungan di awal yakni reksadana. Karena itulah saya mendaftarkan diri saya sendiri pada program pembelian reksadana yang dipotong secara otomatis di tanggal yang sama setiap bulannya. Jumlahnya memang naik turun sih, kadang diatas jumlah nominal, kadang dibawah (sama kaya roda kehidupan, yeah rite), tetapi at least saya sudah punya cadangan kalau sewaktu-waktu saya butuh uang, deh! Walaupun nggak bisa mendadak, ya, karena biasanya butuh 3-5 hari kerja untuk uang kita bisa cair.

Saya dulu memutuskan menggunakan reksadana karena kebetulan 'tingkat keuntungan'-nya lebih tinggi dari yang ditawarkan oleh deposito, oleh karena itu waktu itu saya memutuskan mengambil beberapa jenis reksadana, yang keseluruhannya akan dipotong setiap bulannya dalam jumlah yang sama setiap saya habis gajian. Ada 3 jenis reksadana yang saya pilih, reksadana pasar saham, reksadana pendapatan dan reksadana campuran. 

Karena saya tidak berkeinginan mengambil reksadana saya dalam waktu dekat, maka saya mengambil reksadana saham dengan porsi paling besar (ada 2 buah, sedang yang lain masing-masing 1 buah reksadana). Hal ini karena nilai reksadana saham tidak bisa diprediksi, kadang bisa tinggi kadang bisa rendah, seperti sekarang (nilainya sudah turun 10% dari nilai nominal yang saya tabung). Kalau sedang begini saya hanya bisa pasrah, karena kalau dijual kan malah rugi, sedangkan harapan saya (dan teman-teman lain diluar sana) perekonomian Indonesia akan segera membaik, jadi ya saya putuskan tetap saya keep. 

And it works! Waktu saya memutuskan membeli rumah, ternyata saya baru mengetahui bahwa yang dibutuhkan bukan hanya ‘DP’ atau Down Payment alias Uang Muka. Ternyata ada biaya pengurusan KPR yang biayanya tidaklah sedikit. Waktu dapet perhitungan biaya dari notaris saya Cuma bisa tersenyum kecut, menyadari bahwa apa yang sudah saya tabung bertahun-tahun lamanya akan hilang dalam waktu sekejap.

Buat emak-emak, wanita-wanita atau adik-adik di luar saya yang nggak bisa pegang uang kas (karena selalu habis, nggak tahu kenapa), ide ini bisa banget dipraktekkan. Nggak harus reksadana, bisa juga melalui tabungan pendidikan yang programnya bermacam-macam (berbeda-beda setiap bank, kadang ada yang berhadiah, lho!), yang pasti usahakan setiap tanggal gajian, sebagian dari gaji tersebut sudah kita ‘amankan’ ke akun tabungan kita yang nggak bisa diotak-atik dengan mudah.

Yang dimaksud disini adalah bukan tabungan lain yang kamu punya akses dengan mudah atas atmnya, tapi coba buka akun tabungan yang proses pencairannya agak ribet dan rumit, jadi kamu membutuhkan waktu lebih kalau mau mencairkan tabungan kamu. Bisa lewat reksadana, tabungan pendidikan, unit link (seperti yang ditawarkan beberapa asuransi), atau bahkan menabung di deposito atau koperasi.

Untuk deposito dan simpanan koperasi, walaupun tingkat bunganya tidak besar, bisa jadi pilihan yang tepat, lho! Karena tingkat keamanan jumlah nominal kamu lebih terjaga, dan karena dibatasi oleh waktu jatuh tempo, jadi kita tidak bisa sewaktu-waktu mengambil deposito kita, atau kita akan dikenai denda sejumlah yang telah ditentukan lembaga keuangan tersebut. 

Nah, ternyata ada banyak ya cara-cara untuk menabung. Semoga bermanfaat ya,.. Jadi waktu isi SPT tahun depan nggak begitu sedih karena jumlah hartanya (baca:tabungan) sudah berkembang dari tahun lalu. Selamat Menabung!!!

PS :
Buat kalian yang kadang-kadang merasa gagal dan nggak bisa menabung, sering-sering main ke Cermati.com deh! Banyak tips-tips menabung disitu dan ada berbagai macam info tentang produk keuangan yang nggak banyak diketahui orang awam yang nggak banyak memahami tentang ekonomi. Semoga berhasil, ya!


 
Post a Comment
Related Posts with Thumbnails