Monday, June 15, 2015

Jadi, Sudah punya Baby?

Baby!!!

picture credited www.medicalnewstoday.com

Saya yakin banyak yang lagi tersenyum waktu baca judul blog ini. Ada yang langsung mengelus perut yang lagi mulai buncit, ada yang mungkin langsung cium bayi pertamanya yang baru lahir beberapa minggu yang lalu dan lain sebagainya. Tapi ada juga yang langsung mengernyit, dengan pandangan 'apa-sih-maksudnya' bahkan mungkin ada yang langsung mellow.

Saya (dulu, ya kadang-kadang masih sekarang sih) termasuk golongan yang kedua. Sebagai pasangan yang sudah menikah hampir 3 tahun, kami sudah kebal banget sama pertanyaan ini. Dari yang cuma jawab 'beloomm.. Doain yaaa...' sambil tersenyum manis (kalau yang nanya temen sendiri, karena surprisingly beberapa teman lebih memahami dan nggak bertanya lebih jauh) sampai tersenyum kecut kalau ada yang nambahin embel-embel di belakangnya (dari 'kamu kecapekan...' sampai 'memang kenapa sengaja nunda', tau dong yang biasa nanya siapa hehehe). Tapi Alhamdulillah orang tua kami supportif kok, nggak pernah berhenti berdoa dan kasih support, plus nggak pernah bikin kami down, Alhamdulillahirabbilalaminnn....

Lalu apa saja sih test yang sudah kami lakukan? What should we do, sebagai pasangan yang belum dikaruniai momongan, padahal temen kami yang nikahnya lebih dulu sudah hamil dan mau melahirkan bulan depan? Saya coba share langkah-langkah yang saya ambil ya.. Walaupun belum berhasil, semoga bisa memberi insight buat perempuan-perempuan hebat diluar sana yang sedang berusaha memiliki keturunan.

1. Pilih dokter kandungan yang kamu mau.
Ni satu yang penting. Sebelum melakukan rangkaian test pre-pregnancy yang harganya nggak murah itu, lebih baik search rekomendsi dokter yang bisa membantu proses fertilitas. Bisa minta rekomendasi siapapun, atau bisa juga search di google. Jangan lupa pilih rumah sakit yang bagus ya.. Nggak perlu mahal, tapi sesuai dengan kebutuhan kamu. Misal nantinya kamu pingin kasih asi eksklusif, cari rumah sakit yang mendukung rawat gabung (kita mah orangnya gitu, mikirnya jauh ke depan).
Saya waktu itu pilih RSIA Bunda Margonda karena letaknya dekat dengan rumah, milih dokternya pun pake feeling and turns out dokternya baik dan membantu banget!!! Jangan lupa sesuaikan budget ya, karena beberapa rumah sakit biaya jasanya lebih mahal dibanding yang lain.

2. Konsultasi tentang kondisi kamu dan suami
Setelah pilih dokter, konsultasi dulu tentang kondisi kamu dan suami. Saya dulu pernah disebut dokter lain sebagai penderita PCOs, jadi hal ini yang saya share ke dokter saya yang baru. Biasanya setelah itu dokter akan melakukan rangkaian tindakan seperti USG Dalem dan USG Luar. Dokter kemudian kasih kita tips dan obat, Alhamdulillah dokter saya dulu cuma kasih resep Metformin sama Asam Folat yang total biayanya hampir 1/10 dari biaya dokternya alias murah meriah. Dokter saya ini enak.. Saya disuruh dateng lagi di siklus berikutnya, yakni pas ketika habis mens dan obat yang diresepkan habis.

3. Rangkaian Tes
Setelah beberapa konsultasi dan belum hamil juga, dokter menyarankan kami melakukan beberapa tes untuk mendukung diagnosa dokter kepada kami berdua. Tes yang disarankan bukan hanya tes untuk calon inu tetapi juga calon ayah. Apa saja sih tesnya?

- Tes untuk calon ibu
1. Tes Hormon & Tes Darah
Tes ini dilakukan dalam 1 waktu. Saya inget banget waktu itu diambil darah banyak banget untuk semua tes ini. Hasilnya sih bisa diambil dalam waktu 1 hari, harganya sekitar 1,5juta-2jutaan untuk keseluruhan test kalau nggak salah. Kalau nggak salah tes ini bagus buat yang siklus menstruasinya kacau, salah satunya ada tes terkait dengan kadar FSH (Follicle Stimulating Hormone), LH (Luteinizing Hormone), PRL (Prolactin) dsb.
2. Tes darah TORCH
Sebenarnya ini nggak wajib, dokter juga nggak menyarankan tapi kemarin saya ambil tes ini juga sih. TORCH ini adalah tes untuk menguji antibodi kita terhadap Toksoplasma, Rubella dan CMV (Cytomegalovirus) dan HMV (Herpes 1 & Herpes 2). Kenapa nggak wajib karena penyakit ini sebenarnya bahaya apabila kita terjangkiti virus ini ketika kita akhirnya berhasil hamil. Saya nggak begitu paham sih tentang virus TORCH ini, tetapi sepemahaman saya apabila kita terkena virus ini, bayi dalam kandungan kita juga akan terkena dan obatnya akan dibutuhkan bahkan bertahun-tahun setelah dedek bayi lahir. Kasian, kan? Tes ini diharapkan dapat mengantisipasi itu, jadi dokter bisa mengobati sebelum kehamilan terjadi sambil kita melakukan terapi-terapi untuk fertilitas. 
3. HSG
Untuk HSG, tes ini semacam XRay. Jadi ceritanya nanti suster akan memasukkan cairan kontras ke dalam alat kelamin, kemudian akan dilakukan XRay untuk melihat apakah cairan kontras tadi berhasil melewati tuba falopi atau tidak. Efeknya : MULES! You know the feeling when you want to poop tapi ternyata itu cuma mules belaka tapi mulesnya banget LOL. 
Dari HSG diketahui lebih lanjut apakah tuba falopi kita masih berfungsi dengan maksimal atau nggak.
- Tes untuk calon ayah
Tes untuk calon ayah singkat padat dan jelas : Tes Sperma. Hasil dari tes sperma itu bisa diketahui biasanya 1 hari, dan nanti bisa diketahui juga kualitas sperma sang calon ayah gimana karena di dalam lembaran hasil ada perbandingan standar normalnya. 
Hasil tes sperma biasanya dikonsultasikan lagi sama dokter Androginy. Jadi nanti calon ayah akan diberi rujukan oleh dokter kita untuk konsultasi ke dokter lain. 

Biaya tes diatas sebenarnya tergantung rumah sakitnya, walaupun nggak menampik kenyataan bahwa rata-rata harganya memang mahal. Saya sempat ganti dokter lho karena lab yang dirujuk dokter tersebut menyebutkan angka yang cukup fantastis akan biaya tes-tes diatas (kalau saya nggak salah sekitar total 10jutaan lebih). Jadi sesuaikan dengan budget, jangan sampai ganggu anggaran kita.

Konsultasikan lebih lanjut hasil tes kamu dengan dokter. Kalau ternyata masih belum berhasil juga gimana? Berdoa ya... Nggak ada yang nggak mungkin, kok! Bismillaaaahh....

Love,
Myria Rafiz
Post a Comment
Related Posts with Thumbnails