Featured Post

Ayo Liburan bersama PegiPegi!

Berhubung kemarin tanggal 26 Oktober saya dan suami merayakan anniversary yang kelima, beberapa kali kami sempat mendiskusikan tentang renc...

Tuesday, July 16, 2013

Me & My Money : (Belajar) Menabung


Waktu pertama kali baca event LiveOlive untuk blog competition “Me & My Money” di FemaleDaily ini, yang pertama kali terpikir dipikiran adalah Saving! Ajakan menabung ini selalu ada dalam urutan teratas cara hemat yang biasa diajarkan orang tua. Saya yakin setiap orang tua di dunia ini pasti mengajarkan hal tersebut ke anak-anaknya. Masalahnya, biasaya ajaran ini luntur ketika anak-anak beranjak dewasa, terutama ketika mereka mulai dapat memperoleh penghasilan sendiri.

Saya adalah livingproof akan hal ini. Setelah saya mulai bisa menghasilkan uang sendiri walaupun dari usaha onlineshop kecil-kecilan, boro-boro menabung, menyimpan uang cash di dompet saja rasanya susah banget. Alhasil ketika saya mulai bekerja saya kesulitan memilah-milah barang apa saja yang bisa saya bawa sebagai bekal mencari uang di kota orang. Bukan kenapa-napa, banyak banget tetapi yang bisa dihitung sebagai ‘bekal’ bekerja NIHIL alias sedikit banget!


Sayangnya saya belum bisa belajar dari pengalaman. Ketika mulai bekerja dan berkenalan dengan ‘setan cantik’ yang bernama Kartu Kredit, saya mulai tergoda lagi untuk menjadi konsumtif. Sebentar-sebentar gesek, sebentar-sebentar jalan-jalan. Alhasil gaji saya yang sedikit itu pun semakin terpotong karena tuntutan pembayaran kartu kredit. Sampai akhirnya saya melakukan activa-opname pada harta yang saya miliki ketika melakukan pelaporan pajak tahunan. Baru saya merasa menyesal banget, karena selama hampir setahun bekerja, saya hanya bisa menabung dari bonus tahunan saja, yang tentu saja jumlahnya menjadi sedikit jika dibandingkan dengan apabila saya dapat menabung dengan rutin setiap bulan.

Saya mulai (memaksakan diri untuk) menabung tidak lama setelah itu. Walaupun tidak begitu asing dengan yang namanya Reksadana, tetapi mencoba program Reksadana bulanan yang dipotong rutin dari rekening kita saya masih nol besar alias belum pernah. Mulailah saya bertanya pada bank tempat dimana Payroll saya dibayarkan. Alasannya sederhana sih, karena menurut saya lebih efektif membiarkan gaji kita terpotong otomatis daripada harus menabung via rekening lain untuk didebet di tabungan reksadana. Kalau membuka tabungan baru untuk reksadana bulanan, bisa-bisa suatu kali mandeg hanya karena kita kelupaan transfer ke rekening tersebut. Sayang, kan, karena kelalaian kita malah ada biaya yang harus kita bayar juga.

Awalnya saya ‘hanya’ menabung Rp 500rb sebulannya. Jauuh sekali dari kriteria “30 % dari Gaji adalah Tabungan”. Awalnya rasanya berat banget menghemat Rp 500rb setiap bulannya, setelah terbiasa konsumtif dengan bantuan Kartu Kredit. Tetapi lama-lama saya bisa dan mampu juga. Orang lain saja sanggup menyisihkan bahkan 50% dari penghasilannya kok, masa saya yang notabene masih single nggak bisa?

Hal ini masih berlangsung sampai sekarang, lho! Bahkan setoran untuk reksadana pelan-pelan mulai saya tingkatkan, walaupun nggak drastis karena takutnya saya sendiri nggak siap. Selain itu, saya dan suami (berhubung sekarang sudah menikah) juga mulai melakukan penghematan dalam beberapa hal, misalnya dalam hal belanja bulanan, makan malam, transport termasuk pengeluaran kami selama di kantor.


Dalam belanja bulanan, misalnya, kami biasanya mencatat apa saja yang perlu kami beli, sehingga sesampainya di lokasi kami nggak sembarangan memasukkan barang-barang ke troli belanjaan kami. Untuk makan malam, kami membiasakan sebisa mungkin masak sendiri, bukan jajan diluar (seperti yang biasa kami lakukan dulu). Memang lebih rumit, sih (buat saya) karena harus masak, padahal kadang pulang kantor badan sudah menyampaikan sinyal-sinyal nggak enak ketika melihat tempat tidur. Tetapi kan tidak mungkin kalau kami harus jajan terus setiap hari, tidak hanya boros tetapi juga nggak bagus juga buat kesehatan, mengingat sebagian besar restoran & rumah makan di Indonesia bersahabat baik dengan yang namanya PENYEDAP RASA!

Satu lagi kunci sukses menabung! Jauhkan diri dari kartu kredit untuk hal-hal konsumtif, kalau memang tidak ada cash nantinya untuk membayar kartu ketika jatuh tempo. Bukan apa-apa sih, tetapi membayar bunga kartu kredit itu lebih bikin sakit hati daripada putus cinta. Ini yang sedang saya terapkan saat ini, pelan-pelan saya sedang membayar hutang kartu kredit atas dosa masa lalu yang saya lakukan ketika khilaf.

Jadi apa yang saya lakukan setelah gajian? Yang pertama, langsung dipotong buat tabungan reksadana tentunya. Kemudian, gajian mulai berkurang karena membayar hal-hal rutin seperti Air, Listrik, Iuran Bulanan di Kompleks dan cicilan-cicilan, termasuk cicilan Kulkas, Kasur, Mesin Cuci, Lemari Es (lah, kok banyaak). Setelah itu baru menyisihkan buat uang transport & makan siang. Sisanya baru buat bonus, bisa buat belanja, nyalon, beli make-up & tas baru.

Buat kamu yang pingin tau lebih jauh tentang keuangan & tips and trick terkait keuangan (mulai dari pribadi sampai keluarga), buruan buka www.LiveOlive.com dan daftar! Buat SocialMedia Addict, LiveOlive juga punya :
- FanPage Facebook yang bisa kamu “Like” di MyLiveOlive
- Twitter yang bisa kamu Follow di : MyLiveOlive
- Google+ Page di LiveOlive
- Youtube Channel yang bisa kamu “Subscribe” di : LiveOlive

Related Posts with Thumbnails