Sunday, November 27, 2016

Urgent Wishlist: LAPTOP BARU!

Tepat senin malam satu minggu yang lalu, saya panik-panik sendiri nggak jelas. Pasalnya, Longchamp mengadakan (lagi) annual sale, yang kalau dilihat dari pengalaman tahun kemarin sih lumayan banget, ya diskonnya! Plus ditambah ada diskon 10% kalau beli 2 dan 15% kalau beli 2 dengan kartu kredit tertentu. Kebetulan saya (dan adik saya) ada barang yang sudah saya impi-impikan dari setahun ini, yaitu Tas Laptop alias La Porte Document.
Longchamp La Porte Document
Hari Selasa saya kesana pada saat makan siang, dan astagaaaaaa itu counter Longchamp penuhnya minta ampun! Padahal harganya ‘biasa’ aja, memang sih untuk beberapa produk last season didiskon 20%, tetapi harganya masih 1 jutaan lah yang paling murah. Saya berniat balik lagi ke counter malam harinya, dengan tekat bulat membeli tas laptop baru. Tapi pada saat minta ijin suami saya, niat saya langsung runtuh. Katanya: “Kamu yakin mau beli tas laptop mahal-mahal ‘Cuma’ buat laptop kantor, padahal kamu sendiri belum punya laptop yang proper?

JLEB! Bener, sih. Dirumah saya memang ada 3 Laptop (sombong), tapi nggak ada yang proper. Laptop saya yang paling tua, baterainya udah nggak bisa dipakai dan layarnya udah mati, sehingga harus dipasang menggunakan monitor tambahan kalau mau digunakan. Laptop yang satu lagi, hibah dari Bapak saya, kalau dipakai agak lama dan mulai panas, tiba-tiba mati sendiri, dan itu berlangsung berulang-ulang sampai saya lelah sendiri. Laptop terakhir, netbook kece pilihan saya, kena virus dan hingga saat ini lemotnya minta ampun.

Peer baru nih buat saya menemukan Laptop, yang harganya terjangkau tapi ringan dan nggak gede-gede banget. Pasalnya, walaupun memang saya membutuhkan laptop ini dasarnya buat bekerja, saya juga butuh laptop untuk mendukung kegiatan saya sebagai mahasiswa (yang mana sebisa mungkin jangan berat-berat) dan sekaligus enterpreneur, alias mbak-mbak online shop. Kalau laptopnya terlalu besar dan berat, susah juga kan kalau tiba-tiba harus check instagram tetapi mengambil laptop dari tas aja jadi peer tersendiri buat kita?


Waktu saya lihat iklan tentang Acer Switch Alpha 12, rasa-rasanya kaya gayung bersambut banget! Selain desainnya yang ‘langsing’, ringan dan hybird (alias bisa ‘dilepas’ jadi tablet), ternyata laptop ini fanless! Acer Switch Alpha 12 ini ternyata memiliki sistem pendingin tanpa kipas, atau yang disebut sebagai Liquid Loop, sehingga selain membuat laptop ini tidak gampang panas walaupun digunakan 2 jam nonstop, seperti yang disebutkan seorang ilustrator Diela Maharanie di YouTube Acer Indonesia.


Setelah saya baca-baca, sistem fanless ini tidak hanya berguna untuk membuat laptop tidak mudah panas, tetapi juga supaya lebih tahan lama. Pasalnya, debu yang menempel pada kipas sangat berpotensi membuat suhu laptop menjadi panas dan overheat, yang mana dapat merusak motherboard. Nah, ini mungkin yang terjadi dengan laptop saya yang mudah mati itu, karena terlalu banyak debu yang menempel, sehingga membuat umur laptop menjadi pendek dan mudah rusak. Selain itu, sistem fanless ternyata juga membantu menghemat daya baterai, lho!

Yang saya suka lagi dari laptop ini adalah laptop ini dilengkapi dengan processor Intel Core I generasi ke-6. Berdasarkan pengalaman saya selama bekerja, saya agak kurang cocok dengan netbook yang biasanya processornya belum Core I series, karena ternyata pada saat saya bekerja (terutama dengan excel) saya membutuhkan processor yang lebih kuat, atau worksheet Ms. Excel yang sedang saya gunakan akan crash. Berdasarkan pengalaman, notebook dengan i3 pun saya masih sering crash, sehingga saya happy banget waktu melihat Acer Switch Alpha 12 ini ternyata hadir dalam i5 dan i7. Menurut saya ini merupakan salah satu nilai plus dari laptop Acer Switch Alpha 12 ini, karena sebagian besar dari teman-teman pasti juga sudah tau sebagian besar hybird laptop biasanya hanya dilengkapi dengan processor standar netbook, dan kalaupun ada pasti harganya super duper mahal (diatas Rp 20 Jutaan).

Laptop ini dibanderol dengan harga Rp 13,799,000.00 untuk Core i5 dan Rp 19,999,000.00 untuk Core i7, lumayan banget kan harganya? Menurut saya sesuai dan worthed lah apabila dibandingkan dengan kualitas yang diperoleh. Saya pribadi pun suka sekali dengan produk ini, karena Acer Switch Alpha 12 ini cukup ringan untuk bisa dibawa-bawa ke kampus, bisa saya ubah menjadi tablet sehingga bisa memudahkan dalam upload produk jualan saya di media sosial, sekaligus cukup canggih untuk dapat membantu saya dalam bekerja. Kalau biasanya saya harus membawa laptop dan tablet untuk kegunaan yang berbeda, dengan Acer Switch Alpha 12 ini saya hanya perlu membawa 1 gadget untuk semua kebutuhan saya. 

Keunggulan Acer Switch Alpha 12

Berikut adalah beberapa keunggulan Acer Switch Alpha 12 lainnya:
  1. Dapat dengan mudah berubah dari mode tablet menjadi notebook hanya dengan melepas dan memasang kembali keyboard docking yang dilengkapi engsel magnet. Notebook ini juga dilengkapi kickstand yang bisa diatur sudutnya hingga 165 derajat.
  2. Dilengkapi dengan port USB Type-C dengan USB 3.1 gen 1, sehingga proses transfer data bisa lebih cepat.
  3. Hadir dalam layar 12 inci yang memiliki resolusi QHD (2160 x 1440 pixel) dan telah dilengkapi teknologi IPS, sehingga cocok banget apabila digunakan untuk bekerja dengan spreadsheet. Selain itu, Acer Switch Alpha 12 juga dilengkapi dengan pena digital Active Pen. Hello, Baby!
Spesifikasi 

Now that we already know the price, the spesification, and the features, tinggal mempertimbangkan satu hal lagi : MENABUNG! Acer Switch Alpha 12 ini definitely sudah masuk list wishlist saya dan suami. Tinggal berdoa saja, nih, semoga jodoh saya ya si Acer Switch Alpha 12 ini LOL. 

Anyway, buat yang mau tau lebih lanjut tentang Acer Switch Alpha 12 dan teknologi di dalamnya, silahkan melihat video dibawah ini yaaa...


Selamat Berbelanja Laptop Baru!

Thursday, October 13, 2016

#TTCJourney : Mencoba Akupuntur

Sebenernya ragu-ragu mau posting tentang #TTCJourney, karena kadang-kadang kepikiran:
Kalau udah posting dan belom hamil-hamil, gimana dong?

Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin banyak orang yang mengalami masalah sama kaya saya dan suami, jadi nggak ada salahnya kan saya posting pengalaman saya disini hehehe. 


Anyway, akhir-akhir ini sering banget mendengar 'kisah sukses' temen-temen (yang juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk memiliki keturunan) yang berhasil hamil pasca mencoba akupuntur. Saya mulai browsing tentang akupuntur fertilitas dan klinik akupuntur yang bisa menangangi fertilitas di Jakarta dan sekitarnya (baca: Depok). Hasilnya bermacam-macam, mulai dari akupuntur langsing (ini favorit banget),akupuntur terkait kesehatan sampai akupuntur kecantikan (biasanya terkait kesehatan kulit dan wajah).  

Dari hasil browsing dan googling, akhirnya saya menemukan beberapa tempat yang menangani akupuntur bagi fertilitas, yakni di 2 rumah sakit (RS) besar di Cinere dan Depok. Saya mulai mencoba survey via telepon, mulai dari harga hingga dokternya. Yes, hasil ngobrol dengan teman saya, beberapa teman mengusulkan untuk mencari dokter akupuntur wanita. Alasannya : simply karena risih aja, sih...

Sayangnya survey membuat saya terpaksa menunda dulu rencana akupuntur, karena apabila akupuntur dilakukan di RS, banyak sekali biaya yang dibebankan, mulai dari biaya administrasi hingga biaya jarum. Pencarian pun dilanjutkan, sampai akhirnya saya bertemu dengan Klinik Zahira di daerah Bona Indah, Cinere. 

Awalnya saya ragu-ragu, karena dokter akupuntur yang praktek di klinik tersebut hanya 1 dan jenis kelaminnya laki-laki. Tetapi apabila dilihat dari segi biaya, akupuntur di klinik tersebut sangat amat masuk di budget yang saya miliki untuk akupuntur. Satu kali akupuntur di RS bahkan bisa mengcover 1 kali akupuntur di klinik Zahira untuk saya dan suami, bahkan sisa! Lumayan banget buat beli Chatime di sebelah Klinik! *eh*

Pengalaman pertama akupuntur
Awalnya karena saya nggak ada bayangan sama sekali gimana sih proses akupuntur itu (apakah harus buka semua baju atau menggunakan pakaian dari klinik atau gimana, dan berhubung dokternya laki-laki, jd agak-agak risih juga kalo sendirian), saya geret suami saya untuk ikut ke klinik dan di akupuntur! Setelah bercerita secara singkat tentang kondisi kami berdua (yang sama-sama overweight), akhirnya dokternya mempersilahkan suami saya untuk tiduran di kasur klinik. The Battle Is On!

Ternyata nggak perlu membuka seluruh pakaian ketika proses akupuntur dilakukan. Yang diakupuntur sebagian besar adalah bagian perut, tangan, kaki serta beberapa bagian di wajah (yes, wajah! Terutama di dahi, sih!). Kalau kalian risih dan nggak terbiasa dengan dokter laki-laki, lebih baik sih mencari klinik yang memiliki dokter akupuntur perempuan, karena walaupun nggak banyak, tetapi bagian perut pasti akan terbuka, kan, untuk ditusuk-tusuk jarum. 

Hingga saat ini saya sudah 2x akupuntur di Klinik Zahira, dengan Dokter Bambang. Saya belum hamil, sih, LOL. Tapi percaya nggak percaya, menstruasi saya yang biasanya nggak teratur (2-3 bulan satu siklus), setelah 2x akupuntur Alhamdulillah 'hanya' terlambat 1 Minggu, lho! Dokter Bambang sendiri bilang, sih, bahwa akupuntur ini nggak akan menjamin hamil atau nggak, tetapi yang pasti akupuntur membantu menyehatkan tubuh dan melancarkan proses pencernaan, peredaran darah, dan sebagainya. 

Nggak ada salahnya juga kan, ya, mencoba *Caiyo!*

Buat yang penasaran dan pingin mencoba klinik tempat aku Akupuntur, 
ini ternyata ada twitternya:

*PS :
Ini bukan postingan berbayar ya... 
Postingan ini ditulis pure karena pengalaman Akupuntur di Klinik Zahira Healthcare :)


Monday, October 10, 2016

Career Talk with Presiden Direktur BCA

Hari Sabtu, 1 Oktober 2016 yang lalu saya diberi kesempatan oleh BCA dan Blogger Perempuan untuk hadir dalam suatu event yang sangat amat bagus dan inspiring. Bank Central Asia bekerja sama dengan Universitas Indonesia memberikan seminar kepada mahasiswa-mahasiswa UI, dengan tujuan untuk mempersiapkan mahasiswa tersebut dalam menghadapi dunia kerja nantinya.


     Sambutan dari Bapak Muhammad Anis, Rektor Universitas Indonesia 

Kok, acara seminar saja bisa inspiring, sih?

Konsep acara ini mungkin hampir sama dengan seminar karir yang lain, tetapi isi dari acara ini berbeda hampir 360 derajat! Tidak hanya mengundang speakers yang juga seorang praktisi komunikasi, acara ini juga mengundang langsung Presiden Direktur BCA, yakni Bapak Jahja Setiaadmadja untuk tidak hanya membuka acara melainkan berbicara dan sharing langsung dengan mahasiswa mengenai pengalaman beliau selama di dunia bisnis.


     Bp. Jahja Setiaatmadja - Presiden Direktur BCA 

Acara ini dibuka dengan sambutan dari Bapak Muhammad Anis selaku Rektor Universitas Indonesia, yang dilanjutkan dengan sambutan singkat dari Bapak Jahja Setiaatmadja. Dalam acara ini juga diberikan donasi dana abadi UI secara simbolis, dari Bank BCA kepada UI senilai Rp 100 Juta. Pada kesempatan ini pula, Bank BCA memberikan Beasiswa Bakti BCA tahun ajaran 2016-2017 kepada 29 orang mahasiswa UI senilai Rp 400 Juta.


Bank BCA sendiri bukan kali pertama bekerjasama dengan UI. Selain secara berkelanjutan mendukung pengumpulan dana abadi UI, BCA juga telah memberikan beasiswa kepada mahasiswa UI semenjak tahun 2009. Selain itu, BCA beberapa kali mendukung kegiatan mahasiswa tidak hanya dalam bidang pendidikan, tetapi juga bidang seni budaya, yakni dengan memberikan sumbangan peralatan gamelan.



Acara dilanjutkan dengan sesi career talk bersama the one and only Presiden Direktur BCA Bapak Jahja. Alih-alih memberikan tips and trick mengenai bagaimana bisa memperoleh posisi presiden direktur di usia relatif muda (beliau mulai menjabat sebagai Direktur BCA di tahun 1999, dan di tahun 2011 beliau diangkat menjadi Presiden Direktur BCA), beliau membuka sharing session dengan menceritakan kisah beliau dari kecil.

Ada beberapa hal yang masih saya ingat betul dari beliau :
  1. Bapak Jahja tumbuh dalam keluarga yang kurang mampu. Orangtuanya bahkan baru mampu membeli rumah ketika sudah pensiun. Namun hal ini tidak pernah membuat beliau putus asa dan kecil hati.
  2. Bapak Jahja yakin, bahwa dari sesuatu hal yang buruk sekalipun ada hal indah yang bisa dipetik. Awalnya Bapak Jahja ingin menjadi Dokter Gigi, tetapi karena keterbatasan ekonomi keluarganya, beliau ‘terpaksa’ berkuliah di Fakultas Ekonomi UI jurusan Akuntansi (padahal pelajaran tatabuku adalah salah satu momok yang beliau takuti).
  3. Segala sesuatu tidak ada yang instan. Bapak Jahja tetap tekun bekerja, walaupun apa yang sudah dijanjikan tidak kunjung dipenuhi perusahaan hingga beberapa tahun.
  4. Dalam bekerja, biasakan ‘Give and Take’ - bukannya ‘Take and Give’. Let your boss know what you’re capable of, dan satu lagi : jangan pernah menolak pekerjaan.
  5. Maksimalkan teknologi dalam membantu memaksimalkan kapasitas diri.
Satu hal lagi yang saya pelajari dari beliau, adalah ketekunan. Apabila dilihat di jaman sekarang ini, rata-rata pekerja lebih menyukai pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Hal ini memang sangat bagus apabila yang dicari adalah ‘gaji’, tetapi apabila yang dicari adalah karir, dibutuhkan ketekunan dan loyalitas.


Sesi ditutup dengan tanya-jawab, dimana dibagikan merchandise berupa buku beliau dalam seri hard cover beserta Kartu Flazz yang berisi saldo senilai Rp 200 Ribu. Sayang sekali saya belum beruntung, walaupun sudah duduk paling depan. LOL.

Terima Kasih BCA!
Terima Kasih Blogger Perempuan!
Terima Kasih Bapak Jahja!
 
Related Posts with Thumbnails